Home Kolom Konsep Pendidikan Berbasis Potensi Diri

Konsep Pendidikan Berbasis Potensi Diri

91
0
konsep pendidikan berbasis potensi diri

Dunia Pendidikan KONSEP PENDIDIKAN BERBASIS POTENSI DIRI (Tinjauan Kritis Atas Pola Pendidikan Nasional Indonesia)

Pra Kata

*Aku mendambakannya, namun hingga kini ‘bak pungguk merindukan bulan’. Bilakah?! Peserta didik kita masih dalam kungkungan sebagai obyek. Digiring pada pembinaan mental otoritarian, feodalistik, ‘hitam-putih’, ‘nir’ alternatif-alternatif.

*Adapun yang perlu dipahami, bahwa ini adalah konsep dasar, bukan dalam tataran teknis.

KONSEP PENDIDIKAN BERBASIS POTENSI DIRI
(Tinjauan Kritis Atas Pola Pendidikan Nasional Indonesia)

1. Pengantar

Tulisan ini merupakan autokritik secara mendasar atas pola pendidikan Nasional kita yang lebih menempatkan peserta didik sebagai obyek, dan dengan mengajukan alternatif untuk lebih menempatkan peserta didik sebagai subyek, yang bertumpu pada kodrat kemanusiaan.

2. Pendahuluan

Pendidikan merupakan sokoguru yang mengantarkan individu dan masyarakat pada suatu posisi tertentu. Gerak kita masa kini oleh sebab alur/arus pendidikan kita yang baru dan/atau telah berlalu.

Arus itu boleh jadi tetap berada di ambang sadar atau justru berada di bawah ambang sadar kita, dan sesungguhnya sebagian besar justru yang mengendap di bawah ambang sadar kita, demikian itu berujud mentalitas, yang merupakan kondisi laten.

Sering kita tidak menyadari betapa kuat arus laten tersebut, dan kita lebih banyak menaruh perhatian pada apa yang manifest. Dengan demikian terjadilah kontradiksi antara yang kita pikir dan rasakan dengan apa yang kita perbuat. Dalam masyarakat modern lembaga pendidikan merupakan alur utama dari semua itu.

3. Potensi

Potensi adalah merupakan kemampuan dasar yang belum terungkap. Setiap manusia mempunyai potensi untuk mengembangkan dirinya secara berbeda.

Untuk pengungkapan itu diperlukan suatu kondisi di luar dirinya. Lembaga pendidikan adalah merupakan suatu lembaga formal yang mempunyai tugas utama untuk mengungkap dan mengembangkan potensi diri setiap peserta didik.

Maka itu dalam pembinaan dan evaluasi peserta didik seharusnyalah menggunakan pendekatan individu, tidak general. Pola pendekatan semacam ini adalah merupakan pola pendekatan yang manusiawi, sebab setiap peserta didik adalah merupakan subyek, bukan obyek.

Berbeda dengan pendekatan general yang mekanistik, yang memahami manusia (-dalam hal ini peserta didik-) sebagai obyek yang harus tunduk pada kekuasaan-kekuasaan di luar dirinya, yang mana mereka digiring ke arah tertentu dengan kekuatan yang mungkin saja di luar kemampuan dirinya -atau mungkin tiada disukainya-, dan segala ukuran keberhasilan pun tunduk pada ukuran-ukuran yang ditentukan di luar dirinya, tiada jalan lain.

Semestinya setiap individu peserta didik berhak untuk mengembangkan dirinya sesuai potensinya secara alamiah, wajar, tanpa tekanan ataupun ancaman dan bayang-bayang ketakutan dari teror lembaga yang mengatasnamakan pendidikan, yang mesti mereka jalani, mau/tidak mau.

Dari situ pula reputasi dirinya dipertaruhkan, stigma bisa datang dengan sendirinya sebagai hukuman-hukuman yang sangat tidak adil, padahal mereka tiada lain merupakan korban daripada sikap otoriter penguasa, peletak dasar konsep pendidikan formal yang tiada melihat potensi cemerlang dirinya secara individu.

Dari situlah maka peserta didik dipaksa dengan dipacu untuk menyesuaikan diri dengan kehendak di luar dirinya, kursus-kursus yang melelahkan harus diikuti -setidaknya- dari berbagai subyek yang telah dipatok oleh pihak yang berwenang untuk itu, tiada pilihan lain kecuali harus tunduk pada kekuatan itu, walau harus mengalami kelelahan, yang mungkin bukan seketika itu, melainkan pada saat lain, pada titik jenuh.

4. Sistem Evaluasi

Kita perhatikan dalam sistem evaluasi peserta didik di Negara kita, evaluasi semester, evaluasi kenaikan kelas, evaluasi kelulusan jenjang, semua menegangkan, ancaman/terror psikologis bagi peserta didik, bahkan juga bagi orang tua.

5. Biang Kecurangan

Pokoknya mereka harus lulus dari semua itu, dan kadang menghalalkan segala macam cara. Kecurangan-kecurangan dalam ujian/evaluasi semester, evaluasi kenaikan kelas, evaluasi kelulusan jenjang, hingga jual-beli nilai, pemalsuan ijasah atau jual-beli ijasah asli tapi palsu, penyelenggaraan pendidikan yang tak lebih sekedar formalitas dan dengan mudah mengeluarkan ijasah -dan gelar- asal sanggup membayar, dan lain-lain.

Bentuk kecurangan yang juga telah diketahui bersama oleh siswa/mahasiswa dan bahkan dengan keterlibatan orang tua mereka, terpaksa ataukah tidak. Belum lagi berbagai isu rekayasa yang dilakukan oleh lembaga-lembaga pendidikan untuk memperoleh jenjang agreditasi yang melibatkan semua pihak pengelola suatu lembaga pendidikan.

Suatu kondisi yang sangat tidak bagus untuk pembinaan sumber daya manusia yang berkejujuran, suatu mata rantai yang saling terkait dan merupakan lingkaran setan.

6. Perlunya Alternatif ke Arah Pola pendidikan yang Alami

Pengetrapan sistem pembelajaran peserta didik aktif (pedia) merupakan suatu langkah maju, namun tentu tidak hanya sekedar aktif dalam pengertian semu dan parsial, melainkan harus azasi dan totalitas. Aktif dalam pengertian peserta didik harus dikondisikan aktif secara kodrati, aktif karena dorongan dari dalam dirinya secara alamiah, untuk itu diperlukan kondisi yang bersifat individual. Pembinaan dan evaluasi diterapkan secara individual.

Potensi akademik, bakat serta minat peserta didik betul-betul diperhatikan, oleh sebab itu penghargaan (reward) dalam berbagai bentuk, seperti pemberian sertifikat, stiker-stiker yang melambangkan penghargaan atas segala prestasi untuk berbagai bidang subyek, bahkan kalau perlu hadiah, sedapat mungkin memfasilitasi segala prestasi akademik, bakat serta minat daripada peserta didik.

Guru mencermati potensi/prestasi akademik, bakat serta minat yang berjalan secara alami, untuk selanjutnya dikembangkan.

Para peserta didik tidak dipaksa untuk menguasai bidang tertentu yang telah diterapkan oleh lembaga atau pemerintah (general), kemampuan adalah kemampuan dirinya secara alami, bukan karena tekanan-tekanan yang membebani peserta didik dan juga yang akan menyebabkan kerisauan orang tua.

Semua dikondisikan secara wajar, alami, pengakuan atas kemampuan diri ditanamkan sejak dini (-jujur diri-), sehingga tidak perlu memaksakan diri lebih dari kemampuan. Setiap individu mempunyai kelebihan masing-masing, persoalannya bagaimana kita mesti memanfaatkan kemampuan itu, apa pun bentuknya.

Ukuran prestasi bukanlah bagaimana peserta didik bisa memenuhi pesanan yang telah dipatok secara formal oleh lembaga pendidikan dan/atau pemerintah melainkan bagaimana peserta didik mampu mengembangkan potensi diri.

(Perth WA, medio musim gugur 2011). Konsep Pendidikan Berbasis Kompetensi Diri. *Dimuat di Media Bawean 2 Mei 2011 Ed.rev.

Penulis: A. Fuad Usfa

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here