Home Insights Titik Balik Jepang Menjadi Negara Modern

Titik Balik Jepang Menjadi Negara Modern

305
0
titik balik jepang menjadi negara modern kapal Susquehanna, kapal utama armada kapten Perry
kapal Susquehanna kapal uap armada perry. (Image: blogs.bl.uk)

Mikamoney.com– Titik Balik Jepang Menjadi Negara Modern. Sebelum tahun 1853 Jepang merupakan Negara tradisional dibawah pemerintahan keshogunan dan tuan tanah yang menerapkan jalan pedang samurai yang berlangsung selama 250 tahun.

Masa Keshogunan

Pulau Jepang terisolasi dari dunia luar dan terpisah dari benua Asia, nyaris menjadikan Negara ini terbelakang dan kehidupannya seperti di Eropa tahun 1550. Berikut titik balik Jepang menjadi negara modern.

Sejak tahun 1603 Jepang berada dalam kekuasaan Keshogunan Tokugawa. Shogun memegang kekuasaan tertinggi negara, yang wewenangnya diberikan oleh kerajaan.

Sementara kerajaan hanya memegang otoritas simbolis seperti kepausan di Eropa. Pada era ini kondisi Jepang sangat mengenaskan. Pemerintahan feodal dan tangan besi keshogunan membawa Jepang ke dalam masa kegelapan selama berabad-abad.

Hampir sama dengan negara-negara Asia lain, ekonomi jepang saat itu masih sangat bergantung pada pertanian dan hanya memiliki sedikit sekali industri.

Sektor ekonomi negara ini pun tertutup dengan perdagangan internasional dari 1636-1853 (hanya Belanda dan Cina yang diperbolehkan berdagang).

Selain itu teknologi militer Jepang masih sangat terbelakang jika dibandingkan dengan teknologi Barat, sehingga sangat rentan mengalami kolonialisasi.

Kedatangan Kapten Perry

Titik balik Jepang menjadi negara modern bermula pada 8 Juli 1853 ketika kedatangan Komodor Amerika Matthew Calbraith Perry (1794-1858) dan armada empat kapal perangnya yang terdiri dari 2 kapal uap dan dua kapal layar di perairan Jepang.

Pada bulan November 1852 Perry dikirim oleh Presiden AS Millard Fillmore untuk membangun hubungan diplomatik dan memastikan pembukaan pelabuhan Jepang untuk perdagangan.

Pada 8 Juli 1853, skuadron empat kapal paddlewheel yang dikendalikan oleh kapal fregat, Susquehanna dan Mississippi, serta kapal layar Plymouth dan Saratoga – muncul di luar Uraga Jepang menuju kota Edo, pusat pemerintahan Shogun.

Melihat kapal-kapal yang mengepulkan asap hitam ini membuat ciut orang jepang dan menjadikannya takut sekaligus kagum akan armada kapal yang tiba-tiba muncul di perairan dan belum pernah mereka lihat sebelumnya, sehingga kapal tersebut dijuluki Kurofune atau ‘Black Ships’.

Setelah kedatangan mereka, pejabat daerah setempat meminta bantuan ke pemerintah Edo (Tokyo). Sambil menunggu bantuan dari Edo, pejabat setempat menuju ke kapal Susquehanna, kapal utama tempat kapten Perry sambil membujuk agar sang kapten pergi ke Nagasaki, satu-satunya pelabuhan yang diperuntukkan untuk perdagangan luar negeri.

Orang Amerika menolak dan melepaskan tembakan kosong dari meriam kapal mereka, yang dimaksudkan untuk merayakan Hari Kemerdekaan Amerika sekaligus untuk menujukkan kekuatan superior senjata mereka dan sebagai ultimatum kepada Pemerintah Jepang di Uraga.

Salah satu misi Perry dari Presiden AS Millard Fillmore adalah untuk memperoleh hak dari Tokugawa Shogun yang menerapkan kebijakan isolasi Jepang dari dunia luar, baik dengan kekuatan senjata atau negosiasi untuk mendirikan stasiun kerja sama di pelabuhan di sepanjang pantai Jepang.

Selain itu, Amerika Serikat berharap untuk meniru saingannya, Inggris, dengan memperluas perdagangannya dengan Cina dan membuka pelabuhan Jepang sebagai batu loncatan bagi kapal dan pelayaran dagangnya.

Perry, atas nama pemerintah AS, memaksa Jepang untuk melakukan perdagangan dengan Amerika Serikat dan menuntut perjanjian yang mengizinkan perdagangan dan pembukaan pelabuhan Jepang ke kapal-kapal dagang AS.

Baca juga: Temukan Ikigai dan jalani kehidupan memuaskan

Ini adalah era industri ketika semua kekuatan Barat berusaha untuk membuka pasar baru untuk barang-barang manufaktur mereka di luar negerinya, serta memasok bahan baku dari Negara-negara baru untuk industri mereka.

Presiden Amerika memberi kewenangan kepada Komodor Perry baik dengan kekuatan senjata maupun negoisasi untuk dapat memaksakan tuntutannya dengan paksa.

Pemerintah AS memberi waktu kepada Jepang selama satu tahun untuk mempertimbangkan ultimatum tersebut, jika Jepang menolak, maka kapal-kapal perang itu akan menggempur wilayah Jepang.

Jepang tidak memiliki angkatan laut untuk membela diri atau menghadapi armada kapten Perry, dan karenanya tidak ada pilihan lain bagi mereka selain harus tunduk dan menyetujui tuntutan itu.

Armada kecil Perry hanyalah awal kedatangan bangsa eropa yang tertarik pada kepulauan Jepang. Rusia, Inggris, Prancis, dan Belanda semuanya mengikuti contoh Perry dengan menggunakan kekuatan armada mereka untuk memaksa Jepang menandatangani perjanjian yang menjanjikan hubungan dan perdagangan reguler.

Kemudian pada waktu yang telah dijanjikan, pasukan AS kembali datang ke Jepang. Pada 31 Maret 1854, ditandatangani sebuah perjanjian, yang dikenal sebagai Perjanjian Kanagawa. Sejak saat itu, Jepang akhirnya bergabung dengan komunitas dunia.

Perjanjian serupa kemudian dibuat dengan Inggris (Perjanjian Persahabatan Inggris-Jepang), Rusia (Perjanjian Shimoda), dan Perancis (Perjanjian Persahabatan dan Perdagangan antara Perancis dan Jepang),

yang semuanya membuka Jepang untuk mengakhiri bertahun-tahun kebijakan isolasi nasional Jepang. Kelima traktat ini secara kolektif disebut “Ansei Five-Power Treaties” (Ansei Gokakoku Jôyaku).

Bangsa Eropa tidak hanya mengancam Jepang, mereka juga menggabungkan kekuatan angkatan laut mereka pada beberapa kesempatan untuk mengalahkan dan melucuti wilayah feodal Jepang yang menentang mereka.

Kedatangan Kapal Hitam Kapten Perry menandai peringatan 150 tahun Restorasi Meiji, sebuah peristiwa penting dalam titik balik Jepang yang menandai era perubahan politik, sosial dan budaya yang dramatis ketika Jepang muncul dari berabad-abad isolasi diri dan berusaha untuk mengambil tempatnya di panggung internasional.

Menjelang tahun 1858, Amerika Serikat, Inggris, dan Prancis, telah mendirikan pangkalan-pangkalan militernya di Jepang. Tetapi keadaan itu telah menimbulkan banyak keresahan di tengah masyarakat Jepang, karena masih banyak kelompok masyarakat tidak menyetujui hadirnya bangsa asing di tanah airnya.

Restorasi Meiji

Titik balik Jepang dimulai Pada 6 April 1868, Kaisar Matsuhito, pemimpin muda yang dikenal juga sebagai Meiji, membuat peraturan yang melarang aktivitas-aktivitas anti-asing di seluruh wilayah Jepang.

Ia pun memprakarsai sebuah program untuk memodernisasikan Jepang, salah satunya dengan cara mengimpor mesin-mesin dari negara-negara di Eropa semasa Revolusi Industri.

Selama Periode Meiji (1868-1912), Jepang ditransformasikan dari masyarakat feodal di mana kekuasaan berada di tangan Shogun Tokugawa dan ratusan penguasa lokal atau Daimyo yang mengendalikan tambalan kaum bangsawan, menjadi negara konstitusional yang tersentralisasi di bawah kepemimpinan Kaisar Mutsuhito (1852-1912).

Transisi ini ditandai dengan peresmian nama pemerintahan baru Meiji atau ‘Enlightened Rule’ pada 23 Oktober 1868.

Restorasi Meiji merupakan titik balik Jepang dalam revolusi politik pada tahun 1868 yang mengakhiri kekuasaan Keshogunan (pemerintahan militer) Tokugawa dan mengembalikan kekuasaan negara kepada pemerintahan kekaisaran di bawah Mutsuhito (Kaisar Meiji)

Restorasi yang dimulai pada tahun 1868 ini menandai titik balik sejarah Jepang pada abad modern. Banyak sejarawan membandingkan peristiwa tersebut dengan Revolusi Prancis 1789 dan Revolusi Bolshevik 1917 di Rusia.

Orang Jepang tahu bahwa mereka tertinggal jauh dari negara Barat. Seorang tokoh Jepang daimyō Shimazu Nariakira menyimpulkan bahwa “jika kita mengambil inisiatif, kita bisa mendominasi, jika tidak, kita akan didominasi”, yang menyebabkan Jepang “membuka pintunya untuk teknologi asing.” Sejak saat itu Jepang mulai terbuka untuk mengambil pengetahuan teknologi dari Barat.

Akan tetapi kehadiran pengaruh Barat menimbulkan pro-kontra di dalam lingkar penguasa Jepang sendiri. Beberapa samurai mengungkapkan bahwa mereka menginginkan pengusiran orang asing tesebut.

Beberapa yang lain memutuskan bahwa banyak yang bisa mereka pelajari dari orang asing dan mereka berada dalam posisi yang lebih baik untuk mengusir orang asing setelah mempelajari pengetahuan dari orang asing. Slogan mereka adalah “Etika Timur, Ilmu Pengetahuan Barat.”

Satsuma dan Choshu yang merupakan kelompok oposisi shogun pada dasarnya tidak setuju dengan mempelajari beberapa aspek dari Barat, namun mereka mengharapkan Jepang dapat membentuk kekuatan nasional yang lebih besar dan tidak tunduk pada negara-negara Barat.

Mereka juga mengharapkan kehadiran seorang kaisar yang mampu membawa Jepang menjadi kekuatan yang disegani dunia.

Pada tahun 1866, daimyo dua wilayah Jepang selatan – Hisamitsu dari Satsuma Domain dan Kido Takayoshi dari Choshu Domain – membentuk sebuah persekutuan melawan Keshogunan Tokugawa yang telah memerintah dari Tokyo atas nama Kaisar sejak 1603.

Pemimpin Satsuma dan Choshu berusaha untuk menggulingkan shogun Tokugawa dan menempatkan Kaisar Komei ke puncak kekuasaan.

Melalui kaisar, mereka merasa bisa lebih efektif menghadapi ancaman asing. Namun, Komei meninggal pada bulan Januari 1867 dan anaknya Mutsuhito yang masih berusia 14 tahun naik ke takhta sebagai Kaisar Meiji pada tanggal 3 Februari 1867.

Tindakan pertama, yang diambil pemerintahan baru pada tahun 1868 adalah memindahkan ibukota kekaisaran dari Kyōto ke ibukota Keshogunan Edo yang dinamai Tokyo (“ibukota timur”).

Reorganisasi administrasi sebagian besar diselesaikan pada tahun 1871, ketika wilayah-wilayah feodal secara resmi dihapuskan dan diganti oleh sistem prefektur yang masih bertahan sampai sekarang. Semua hak istimewa kelas feodal pun juga turut dihapuskan.

Pada tahun 1871 sebuah tentara nasional dibentuk, yang kemudian diperkuat dua tahun kemudian oleh undang-undang wajib militer universal.

Dalam usahanya memodernisasi militer dan angkatan laut, Meiji berkiblat ke Eropa barat. Delegasi pun dikirim untuk mempelajari angkatan bersenjata Eropa.

Pada awalnya mereka tertarik menggunakan persenjataan Prancis, namun kemudian beralih ke Inggris  karena dianggap lebih canggih.

Pemerintah Meiji kemudian pergi ke Inggris untuk membeli kapal perang mereka. Sebagian besar kapal perang Kekaisaran Jepang pada periode awal ini berasal dari galangan kapal Inggris.

Di bidang ekonomi, pemerintah baru melaksanakan kebijakan untuk menyatukan sistem moneter dan pajak. Dengan reformasi pajak pertanian tahun 1873 menjadikan pertanian sebagai sumber pendapatan utama negara.

Untuk menciptakan negara modern, Meiji dan para penasihatnya menyadari bahwa sistem pendidikan yang komprehensif sangat penting. Pada tahun 1871 sebuah kementerian pendidikan diciptakan untuk melaksanakan reformasi pendidikan.

Satu tahun kemudian pemerintah mengenalkan sistem pendidikan universal di negara ini, yang pada awalnya mencontoh pada pembelajaran Barat. Baik pria ataupun perempuan Jepang diberikan hak untuk memperoleh pendidikan.

Untuk menciptakan negara modern, Meiji dan para penasihatnya menyadari bahwa sistem pendidikan yang komprehensif sangat penting. Pada tahun 1871 sebuah kementerian pendidikan diciptakan untuk melaksanakan reformasi pendidikan.

Satu tahun kemudian pemerintah mengenalkan sistem pendidikan universal di negara ini, yang pada awalnya mencontoh pada pembelajaran Barat. Baik pria ataupun perempuan Jepang diberikan hak untuk memperoleh pendidikan.

Dampak Restorasi Meiji

Perubahan ekonomi dan sosial sejalan dengan transformasi politik periode Meiji. Meski ekonomi masih bergantung pada pertanian, industrialisasi merupakan tujuan utama pemerintah yang mengarahkan pengembangan industri strategis, transportasi, dan komunikasi.

Jalur Kereta api pertama dibangun pada tahun 1872 dan pada tahun 1890 negara ini telah memiliki rel kereta api sepanjang 1.400 mil (2.250 km).

Jaringan telegraf pun dibangun untuk  menghubungkan semua kota besar pada tahun 1880.

Perusahaan swasta juga didorong oleh dukungan keuangan pemerintah dan dibantu oleh institusi sistem perbankan bergaya Eropa pada tahun 1882.

Seluruh upaya modernisasi tersebut memerlukan sains dan teknologi Barat. Akibatnya westernisasi pun dipromosikan secara luas.

Meskipun demikian westerniasasi masif ini mulai diperketat pada tahun 1880-an, ketika apresiasi baru nilai tradisional Jepang muncul.

Dampaknya, meskipun  perkembangan sistem pendidikan modern dipengaruhi oleh teori dan praktik Barat, tetapi tetap menekankan nilai tradisional kesetiaan samurai dan harmoni sosial.

Sila tersebut dikodifikasikan pada tahun 1890 dengan berlakunya Rescriptor Besar untuk Pendidikan (Kyōiku Chokugo). Kecenderungan yang sama berlaku dalam seni dan sastra, di mana gaya Barat pertama kali ditiru.

Pada awal abad ke 20, tujuan Restorasi Meiji telah banyak dtercapai. Jepang pada saat itu bergerak cepat untuk menjadi negara industri modern.

Perjanjian tidak adil  yang telah memberi hak huukum dan ekonomi istimewa bagi  asing melalui ekstrateritorialisasi direvisi pada tahun 1894.

Pada tahun 1902 Jepang dan Inggris membentuk aliansi (Anglo-Japanese Alliance) untuk melawan ancaman yang diajukan oleh Rusia terhadap Inggris India dan Timur Jauh, terutama kepentingan Jepang di Korea.

Nama Jepang semakin diperhitungkan dunia setelah meraih kemenangan dalam dua perang (di China pada tahun 1894-95 dan Rusia pada tahun 1904-05).

Kematian kaisar Meiji pada tahun 1912 menandai akhir periode restorasi. Walaupun demikian beberapa pemimpin penting Meiji dibawa sebagai negarawan tua (genro) di rezim baru (1912-26) dari kaisar Taishō dan terus berusaha menjadikan Jepang sebagai negara besar pesaing negara-negara Barat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here