Postponing Reality Hingga Akhirnya Sadar Sudah Berumur

Postponing Reality Hingga Akhirnya Sadar Sudah Berumur
Postponing Reality Hingga Akhirnya Sadar Sudah Berumur (Photo by Fernanda Latronico via pexels)

Pernakah kalian mendengar tentang postponing reality? Ini adalah suatu fenomena dikalangan anak muda dan anak sekolahan di perguruan tinggi, kalian dan saya mungkin secara tidak sadar juga pernah merasakan keadaan ini

Sebelum membahas lebih lanjut apa postponing reality ini, sebaiknya kita mengetahui dulu pengertiannya. Postponing reality merupakan suatu keadaan dimana seseorang memilih menunda untuk berhadapan langsung dengan dunia nyata (realitas) atau di dunia kerja

Fenomena ini banyak terjadi pada anak muda kuliahan, kebanyakan diantara kita (generasi milenial) hidup dengan didikan gaya lama yaitu himbuan secara sadar atau tidak sadar dari lingkungan (keluarga dan guru sekolah) untuk kuliah setinggi-tingginya agar menjadi sukses.  

Sukses yang bagaimana ? biasanya kaum muda masih abstrak mendifiniskan kesuksesan dirinya bahkan banyak pula yang tidak punya gambaran tentang kesuksesan. Definisi sukses pada gaya lama biasanya mengarah pada profesi menjadi dokter, menjadi dosen, menjadi pns atau karyawan di perusahaan dengan memakai jas dan dasi di balik meja. Pikiran semacam ini secara tidak sadar merasuk kedalam pikiran kecil kaum muda bahwa itu semua bisa diperoleh dengan ‘sendirinya’ dan mudah apabila sekolah setinggi-tingginya

Tapi benarkah demikian ?  

Dunia nyata adalah dunia yang penuh kompetisi, baik kalian sadari atau tidak bahwa semua orang menginginkan apa yang kalian inginkan. Apabila kalian menginginkan suatu profesi yang ‘menyenangkan’ seperti dalam dunia sinetron, kerja dengan baju necis di kantor yang mewah dan gedung bertingkat dengan jabatan top dan gaji yang besar, orang lain juga menginginkan hal seperti itu

Demikian pula, jika kalian mau jadi PNS (profesi generasi jadul tapi masih diidamkan, diremehkan sekaligus diinginkan). Apa yang kalian inginkan orang lain juga menginginkannya maka tidak ada cara lain kecuali harus berkompetisi dengan lainnya.    

Postponing reality terjadi ketika kalian berpikir bahwa dengan kuliah setinggi-tingginya maka jabatan dan pekerjaan akan mudah datang dengan sendirinya. Ini terjadi ketika anak muda setelah lulus S1 bingung tidak tau harus kemana, mau pulang ke rumah khawatir mengecewakan orang tua dan malu pada tetangga.

Mau kerja ? ternyata tidak gampang, harus melamar pekerjaan dan bersaing dengan lainnya. Atau bahkan ketika pertama mendapatkan pekerjaan ternyata dunia kerja tidak sesuai dengan ekspektasinya. Akhirnya apa yang terjadi? Jawabannya: ingin melanjutkan kuliah, agar tidak terkesan menjadi pengangguran atau karena ada harapan setelah lulus S2 mendapatkan pekerjaan yang lebih baik.

Setelah Lulus S2?

Banyak yang beranggapan bahwa orang sukses itu kebanyakan lulusan S2 dan S3. Tapi taukah kalian bahwa mereka yang S2 dan S3 itu menempuh pendidikan karena memang tuntutan profesi. Seorang PNS yang melanjutkan pendidikannya ke jenjang lebih tinggi (misal S2) karena ingin menaikkan karir atau jenjang jabatannya. Demikian pula, seorang dosen melanjutkan kuliah hingga gelarnya berderet-deret sampai professor, itu memang karena tuntutan profesinya sebagai pengajar untuk menaikkan jenjang karirnya.

Kalau kalian fresh graduate dari lulusan S1 kemudian berpikir untuk melanjutkan kuliah ke S2 atau S3 tanpa ada background profesi atau institusi dibelakangnya (misalnya menjadi pegawai disebuah institusi atau kantor tertentu) maka setelah lulus S2 kalian akan masih kebingungan mau kerja dimana. Tidak ada cerita lulusan S3 otomatis jadi PNS atau jadi dosen negeri, semua harus mengikuti seleksi cpns.

Kan tidak harus jadi PNS? Ok lah, untuk bekerja di BUMN atau perusahaan bonafide atau multinasional pasti juga ada seleksinya dan seleksi itu tidak mudah karena banyak saingannya. Bahkan corporate bonafide yang besar saat ini seperti Google, Apple, Tesla sudah tidak melihat lagi ijazah dari calon karyawannya, yang mereka lihat adalah kemampuan (skill) termasuk keahlian teknis, interpersonal, leadership dari calon karyawannya

Kalau pikiran kalian hanya terpaut pada sekolah dan beranggapan kuliah setinggi-tingginya sampai professor dengan harapan bisa hidup enak, nyaman, terjamin dengan gaji besar maka sebaiknya pikiran seperti itu disingkirkan. Karena kuliah itu butuh waktu, dana dan tidak ada jaminan kalian akan mendapatkan seperti harapan tersebut.

Kalau kalian beranggapan setelah lulus S1 langsung melanjutkan ke S2 kemudian melanjutkan lagi ke S3. Setelah lulus S2 atau S3 usia kalian tidak muda lagi, mau ikut seleksi cpns menjadi gengsi dan melamar menjadi karyawan swasta di perusahaan akan digaji sama seperti lulusan SMA atau S1. (Baca juga: Belajar Giat di Sekolah Ujungnya Untuk Menjadi PNS ? Menjadi Pegawai Negeri)    

CEO S2

Banyak anak muda yang menjadi CEO startup lulusan S2, rata-rata mereka melanjutkan pendidikan S2 nya di luar negeri kemudian balik ke Indonesia dan mendirikan startup. Apakah suatu keharusan S2 untuk menjadi CEO ? tidak, untuk menjadi CEO tidak mengharuskan kalian lulusan S2 atau S3 karena ini jenjang karir yang berbeda pada tiap perusahaan.

Seorang founder yang mendirikan perusahaan dari awal akan otomatis menjadi CEO karena keputusan perusahaan ada ditangan founder. Kecuali kalau startup-nya telah IPO (sahamnya ditawarkan ke publik) maka rapat pemegang saham yang akan menentukannya. Begitupun, untuk menjadi CEO di perusahaan yang telah mapan tidak dilihat kalian lulusan S2 atau tidak, yang mereka lihat adalah profesionalisme, dedikasi, dan jenjang karir.

Kesimpulan

Kalian yang masih muda sebaiknya perbaiki mindset. Semua orang pasti ingin menjadi sukses dan bahagia oleh karena itu kalian harus tau terlebih dahulu tentang arti kesuksesan yang ingin kalian raih.

Oleh karena itu, kalian perlu mengeksplor diri tentang apa yang ingin kalian capai. Tidak ada yang gratis semua butuh pengorbanan, dedikasi, persisten dan tekad yang kuat. Selama kalian berada di dunia kampus maka sebaiknya mengeksplor bakat kalian, lakukan apa yang menjadi obsesi kalian. Tidak perlu takut gagal, semakin banyak kalian melakukan kegagalan dan kesalahan semakin cepat kalian akan belajar karena usia masih muda

Dunia nyata adalah dunia bagi mereka yang mau bertindak, gigih berjuang untuk mewujudkan mimpi kesuksesannya. Kedepannya, orang akan lebih dihargai apabila seseorang memiliki keahlian dibidangnya daripada hanya deretan gelar akademik. Seorang pemain sepakbola seperti Cristiano Ronaldo tetap akan mentereng namanya walaupun tidak memiliki gelar akademik, dan kalian yang memiliki gelar akademik juga bisa mentereng namanya apabila memiliki keahlian tertentu dibidang akademiknya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *