Home Woman & Wedding Menafkahi Istri dan Keluarganya, Haruskah ?

Menafkahi Istri dan Keluarganya, Haruskah ?

119
0
beban menafkahi istri dan pihak keluarganya

Mikamoney.com Menafkahi Istri dan Keluarganya, Haruskah ?. Menikah merupakan idaman setiap orang baik lelaki maupun perempuan

apalagi bagi mereka yang telah memiliki komitmen untuk membina rumah tangga yang di idamkan, terbayang rumah tangga yang bahagia penuh dengan cinta dan bunga bertebaran dalam kehidupan.

Namun, apa yang terjadi setelah menikah, haruskah menafkahi istri dan keluarganya ?

Banyak orang yang mengatakan bahwa menikah itu hanya enak tiga bulan pertama dan menjadi raja sehari yang duduk dipelaminan.

Setelah itu kembali ke realita yang sebenarnya bahwa kehidupan yang dihadapi adalah kehidupan nyata bukan sinetron ataupun film india.

Permasalahan yang banyak dihadapi oleh pasangan muda maupun yang telah lama menikah adalah permasalahan ekonomi, banyak perceraian disebabkan oleh faktor ini.

Bagi pasangan muda yang baru menikah, menata hidup dimulai dari awal, biasanya mereka tinggal di rumah orang tua ataupun mertua selama belum memiliki rumah sendiri

Bagi mereka yang telah mapan secara ekonomi, masih muda dan jabatannya mentereng serta gaji yang besar apalagi sudah punya rumah dan kendaraan tidak jadi persoalan untuk menikah kapan saja.

Namun, tidak semua kalangan muda bisa mapan seperti itu. Banyak kalangan muda yang menikah masih dibantu oleh orang tuanya,

bahkan berutang untuk melakukan pesta pernikahan untuk menjaga gengsi yang sebenarnya memberatkan kepada pasangan muda tersebut setelahnya karena harus mencicil utang dan belum tagihan lainnya

padahal setelah menikah butuh modal yang tidak kalah besarnya untuk mencicil kontrakan atau membeli rumah secara KPR

Disisi lain, fenomena yang sering dijumpai dalam pernikahan adalah nafkah.

Terlepas dari kultur atau budaya dimana orang tua biasanya membiayai anaknya yang paling tua untuk sekolah dan anaknya yang paling tua tersebut menanggung biaya adik-adiknya.

Adanya perasaan ‘kewajiban’ untuk menanggung anggota keluarga ini terbawa hingga anak tertua menikah. Permasalahannya adalah tidak semua anak tertua bisa menanggung adik-adiknya dan kedua orang tuanya,

jika dia punya tekad untuk menanggungnya biasanya mengorbankan kepentingan pribadinya hingga telat menikah

atau banting tulang mencari nafkah bahkan berutang padahal untuk mendapatkan pekerjaan yang mapanpun tidak semudah yang dibayangkan

Bagi mereka yang sudah menikah, jika anak tertua tersebut perempuan maka ‘kewajiban’ tersebut akan dibebankan baik secara langsung maupun tidak langsung kepada suaminya yang sebenarnya suaminya tersebut ‘orang lain’

atau bukan keluarga inti dari si pihak perempuan. Semapan apapun suaminya jika dia harus menafkahi istri dan keluarganya entah membiayai adik istrinya atau menanggung kehidupan orang tua dan kerabatnya dari si istri

maka akan mempengaruhi kondisi ekonomi keluarga, padahal suami-istri membina keluarga juga butuh perjuangan keras agar kondisi ekonomi stabil dan mapan.

Lalu, bagaimana bagi mereka yang kondisnya pas-pasan dimana gajinya hanya cukup bahkan kurang untuk memenuhi kebutuhannya dalam sebulan tapi masih dibebani tanggungan dari keluarga istri ? apa yang harus dilakukan.

Berikut ada beberapa cara yang bisa dijadikan referensi jika menghadapi kondisi seperti itu:

Pertama, perlunya komunikasi dan keterbukaan dengan istri. Lakukan komunikasi yang baik dengan istri katakan sebenarnya kalau kondisi keuangan anda hanya mampu menanggung keluarga inti anda yakni anda dan istri anda

Kedua, atur keuangan anda. Jika anda mendapatkan gaji bulanan sisihkan sebagian untuk jatah istri, sisihkan juga untuk lauk-pauk dan kebutuhan harian dan sisanya anda pegang untuk keperluan diri anda sendiri.

Katakan kepada istri, jika dia mau membantu adik-adiknya atau kedua orang tua dan kerabatnya maka ambil dari jatah yang diberikan suami untuk dia

dengan konsekuensi tanggung sendiri dalam artian jatah suami yang seharusnya buat shoping istri tapi karena istri menanggung adiknya maka dia mengorbankan keinginannya untuk tidak shoping karena uang dari suami diberikan kepada adiknya.

Tindakan seperti ini agar istri bertanggung jawab dan disiplin terhadap keluarga yang baru dibinanya,

jangan sampai karena membantu keluarga dan kerabatnya menjadikan ekonomi keluarganya (istri dan suami) morat-marit dan beban suaminya bertambah

Ketiga, jika suami punya uang dan ingin membantu beban keluarga istri tidak ada masalah tapi jangan sampai suami terbebani dengan menanggung keluarga dari istri yang sebenarnya kewajiban suami tersebut hanya bertanggungjawab menafkahi istri dan anak-anaknya (jika sudah punya anak)

Baca juga : Setelah menikah tinggal dengan mertua atau orang tua ?

Hal yang harus diperhatikan bagi yang baru membina keluarga adalah perkuat ekonomi keluarga inti terlebih dahulu,

jangan sampai karena menanggung nafkah keluarga dari pihak istri menjadikan ekonomi keluarga intinya sendiri morat-marit dan akhirnya tidak hanya menyusahkan diri-sendiri tapi juga menyusahkan orang lain.

Atur keuangan keluarga dengan cermat hingga kondisi ekonomi menjadi stabil.    

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here