Home Lainnya Cinta Dibalik Rahasia dan Kekuatannya

Cinta Dibalik Rahasia dan Kekuatannya

244
0
dibalik rahasia dan kekuatan cinta

Mikamoney.com– Cinta adalah apa yang membuat bintang dan manusia dan dunia berputar. Jadi, cinta adalah kekuatan yang mengikat seluruh alam semesta bersama.

Saya percaya bahwa ketika kita menginginkan sesuatu, seluruh alam semesta berkonspirasi untuk membantu kita.

Masalahnya adalah, kalimat ini adalah sesuatu yang merupakan pedang bermata dua. Jika Anda menginginkan sesuatu yang positif, alam semesta berkonspirasi untuk membantu Anda.

Jika Anda menginginkan sesuatu yang negatif – bahkan tanpa disadari, karena orang memiliki kecenderungan untuk memahami bahwa penderitaan adalah sesuatu yang mereka butuhkan – alam semesta akan bersekongkol dengan kita.

Jadi, berhati-hatilah atas keinginan Anda karena pada akhirnya, apa pun yang ingin Anda lakukan sendiri, positif atau negatif, Anda akan mewujudkan impian ini.

Pikiran, melalui pengamatan, melalui keinginan, dan melalui kontinuitas keinginan, yang ditopang oleh pikiran selanjutnya,

berkata : “Besok aku akan berbahagia. Besok aku akan mencapai sukses. Besok dunia akan menjadi tempat yang indah”. Demikianlah pikiran menciptakan jarak yang merupakan waktu itu.

Sekarang kita bertanya, dapatkah kita menyetop waktu? Dapatkah kita hidup sepenuhnya, sehingga tak ada hari esok yang harus dipikirkan oleh pikiran? Sebab waktu adalah kesedihan.

Artinya, kemarin atau seribu kemarin yang lalu, Anda mencintai, atau Anda mempunyai sahabat yang telah pergi, dan kenangan itu tinggal pada Anda dan Anda berpikir tentang rasa suka dan rasa duka itu – Anda melihat ke belakang,

menginginkan, mengharap, menyesal; maka pikiran, dengan mengulang-ulang semuanya itu, melahirkan sesuatu yang kita sebut kesedihan dan memberikan kontinuitas kepada waktu.

Selama ada jarak waktu yang telah dilahirkan oleh pikiran ini, pastilah ada kesedihan, pasti ada rasa takut yang berkesinambungan. Maka pertanyaan yang timbul ialah, dapatkah jarak waktu ini berakhir?

Bila Anda berkata : “Mungkinkah ia berhenti?” maka ia telah menjadi sebuah ide, sesuatu yang hendak Anda capai, dan karena itu Anda mempunyai jarak waktu dan Anda terjebak lagi.

Kita mengira bahwa hidup selalu berlangsung di masa kini dan bahwa mati sesuatu yang menunggu kita nun jauh disana. Tetapi kita tak pernah bertanya, apakah perjuangan kehidupan sehari-hari itulah yang merupakan hidup yang sebenarnya.

Kita ingin mengetahui kebenaran tentang reinkarnasi, kita meminta bukti tentang kelangsungan jiwa, kita percaya pada pernyataan orang-orang yang waskita dan pada hasil-hasil riset psikis,

tetapi kita tak pernah bertanya, tak pernah, bagaimana cara menghayati kehidupan – Hidup dengan riang hati dengan penuh kepesonaan, dengan keindahan setiap hari.

Kita telah menerima hidup apa adanya dengan segala siksaan dan keputusasaannya, dan telah terbiasa dengan itu dan memikirkan tentang kematian sebagai sesuatu yang harus dihindarkan dengan hati-hati.

Tetapi matipun satu hal yang luar biasa seperti hidup, bila kita tahu caranya hidup. Anda tak mungkin hidup tanpa mati setiap menit. Ini bukanlah sebuah paradoks intelektual.

Supaya hidup komplit, sepenuhnya, setiap hari, seakan hidup itu suatu keindahan yang baru, haruslah ada kematian terhadap segala sesuatu yang terjadi hari kemarin;

jika tidak, maka hidup Anda bersifat mekanis, dan batin yang mekanis tak mungkin tahu apa itu Cinta atau apa itu Kebebasan.

Cinta Dalam Veda

Dia ada di mana-mana, Yang murni dan tidak berbentuk, Yang Mahakuasa dan Maha Penyayang.

“Engkau ayah kami, Engkau adalah ibu kami, Engkau adalah teman kami yang terkasih, Engkau adalah sumber segala kekuatan; beri kami kekuatan. Engkau Dia yang memikul beban alam semesta; bantu aku menanggung sedikit beban hidup ini. ”

Demikianlah yang dinyanyikan para Resi Veda. Dan bagaimana cara menyembah Dia? Melalui cinta.

“Dia harus disembah sebagai orang yang dikasihi, lebih berharga dari semua yang ada di kehidupan ini dan di kehidupan selanjutnya.”

Adalah baik untuk mencintai Tuhan dengan harapan imbalan di dunia ini atau di masa depan, tetapi lebih baik mencintai Tuhan demi cinta; dan doanya berbunyi, “Tuhan, aku tidak menginginkan kekayaan, anak-anak, atau belajar.

Jika itu kehendak-Mu, aku akan pergi dari kelahiran ke kelahiran; tetapi berilah aku ini, agar aku dapat mencintaimu tanpa harapan imbalan – cinta tanpa pamrih demi cinta.

Sains telah membuktikan kepada saya bahwa individualitas fisik adalah khayalan, bahwa tubuh saya adalah satu tubuh yang terus berubah dalam samudera materi yang tak terputus, dan Advaita (persatuan) adalah kesimpulan yang diperlukan dengan rekan saya yang lain. , Jiwa.

Manusia harus menjadi ilahi dengan menyadari yang ilahi. Berhala atau kuil atau gereja atau buku hanyalah dukungan, bantuan, dari masa kecil rohaninya; tetapi terus-menerus ia harus maju.

Dia tidak boleh berhenti di mana pun. “Penyembahan eksternal, penyembahan materi,” kata tulisan suci, “adalah tahap terendah; berjuang untuk naik tinggi, doa mental adalah tahap berikutnya, tetapi tahap tertinggi adalah ketika Tuhan telah direalisasikan. “

Markus, orang yang sungguh-sungguh sama yang berlutut di hadapan patung itu memberi tahu Anda, “Dia yang tidak bisa diungkapkan matahari, juga bulan, atau bintang-bintang, kilat tidak bisa mengungkapkan Dia,

atau apa yang kita sebut sebagai api; melalui Dia mereka bersinar. ” Tapi dia tidak menyalahgunakan idola siapa pun atau menyebut ibadahnya dosa.

Dia mengakui di dalamnya tahap kehidupan yang penting. “Anak itu adalah ayah dari pria itu.” Apakah benar bagi seorang lelaki tua untuk mengatakan bahwa masa kanak-kanak adalah dosa atau masa muda adalah dosa?

Jika seseorang dapat menyadari sifat ilahi-Nya dengan bantuan gambar, apakah benar menyebut itu dosa? Juga, bahkan ketika dia telah melewati tahap itu, seharusnya dia menyebutnya kesalahan.

Manusia tidak bepergian dari kesalahan ke kebenaran, Tetapi dari kebenaran ke kebenaran, Dari kebenaran yang lebih rendah ke yang lebih tinggi.

CINTA
Jalan Kata-Kata Tak Bisa Mewakilinya

Jika kamu memaafkan orang…
yang memperoleh manfaatnya bukan orang yang engkau maafkan…
tetapi yang memperoleh manfaatnya adalah Dirimu sendiri.
Seluruh manfaatnya adalah untuk Dirimu sendiri.

Begitupun juga dengan Cinta.
Jika engkau memberikan Cinta…
sesungguhnya seluruh manfaatnya adalah untuk Dirimu sendiri.

Cinta itu tidak bisa di bagi.
Cinta itu begitu di berikan seketika itu juga, Ia akan kembali kepadamu dengan membawa beribu-ribu Cinta.

Cinta itu tidak perlu Obyek…
Ia juga tidak butuh Subyek…
Ia sudah cukup dengan Dirinya sendiri.

Dari dulu, kini, dan nanti…
Ia sudah cukup dengan Dirinya sendiri.

Cinta tidak pernah lebih…
tidak pernah kurang juga …
Itu sudah Sempurna seperti apa adanya..

Sang Buddha memperlihatkan Bunga Mawar…dan Mahakasyapa tersenyum…
begitu saja…
sesederhana itu.

Jalan kata-kata tidak bisa mewakilinya..

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here