Home Kolom Senja Kelabu Di Tanggal 22 Maret 2010

Senja Kelabu Di Tanggal 22 Maret 2010

66
0
senja kelabu di kota perth

Senja Kelabu Di Tanggal 22 Maret 2010. Di suatu sore di hari Senin, 22 Maret 2010, memasuki musim gugur di tahun ini, kami sekeluarga pergi ke pusat kota Perth, dari Gosnells kami melihat gumpalan awan hitam berarak bagai menyelimuti kota Perth dan sekitar.

Kami memutuskan untuk tidak naik kendaraan sendiri, kami naik kereta api, sedang mobil kami parkir di stasiun Kereta Api Gosnells. Memasuki pusat kota gerimis mulai turun, suara Gunturpun menderu, kilat nampak pula mencercahkan cahayanya.

Tak lama KA sampai, dan kami turun bergegas bersama penumpang lainnya. Hujanpun turun dengan derasnya yang diiringi angin kencang. Kami berteduh di perpustakaan. Sebagaimana biasa perpustakaan besar dengan beberapa lantai itu di penuhi banyak pengunjung pecinta ilmu, tak terkecuali student dari berbagai negri dengan menggunakan fasilitas modern yang tersedia di sana.

Kami tidak membawa kartu perpustakaan, oleh sebab memang tidak bermaksud mengunjunginya, anak-anak hanya asyik mengamati buku dan fasilitas internet, kadang becanda naik turun tangga, sesekali dari lantai atas mereka memanggil aku, ‘aba, aba’, panggilnya sambil melambai-lambaikan tangannya; aku duduk di salah satu lobi di lantai satu.

Sesaat kami sempatkan pula menikmati kehangatan capucino di Café yang terletak di salah-satu sudut lantai yang sama. Anakku Gamal datang menhampiriku dan bertanya, ‘apakah abah membawa kartu library?’, saya jawab kita hanya ada waktu sebentar saja nak, di luar hujan sudah mulai reda, kita akan segera ke luar; dan ia paham.

Di perpustakaan itu juga dijual buku-buku dengan harga murah, banyak juga yang seharga limah puluh sen, dari buku-buku ilmiyah hingga buku-buku fiksi, dari edisi biasa hingga edisi lux tersedia, dan yang demikian itu sudah biasa dijumpai di berbagai perpustakaan di sini. Sangat positif sebagai stimulus untuk tumbuh kembangnya minat baca.

Kami ke luar dari perpustakaan, hujan tidak lagi lebat, hanya gerimis saja, kilat masih terlihat bermain di angkasa, gemuruh Guntur masih menderu, matahari sudah mulai condong dengan mendung menghalangnya, kami berjalan cepat-cepat, sesekali berlari kecil mencari tempat berteduh dari percik sang gerimis.

Di jalan genangan air cukup tinggi, juga memasuki toko-toko di deretan kanan-kiri jalan raya, tak terkecuali di beberapa area parkir. Mengamati keadaan sekitar dapatlah ditebak bahwa hujan yang tak berapa lama itu tentu amatlah lebat, namun kami tak tahu akannya oleh sebab mengurung diri di perpustakaan yang berdiri tegar dengan besar dan gagahnya itu.

Selanjutnya kami masuk ke sebuah erea yang bernuansakan bangunan Cina, yaitu area ‘pusat makan-minum’ (food court), di situ tertulis ‘Old Sanghai’, tapi tak seperti biasa, pintu gerbangnya tertutup, tentu dimaksudkan untuk menghambat aliran air yang meluap dari jalan raya, hanya pintu samping saja yang terbuka.

Pengunjung cukup ramai jua. Senja telah tiba kami pikir sudah masanya pula untuk makan malam sekalian. Dari food court kami menuju stasiun KA, kami melewati kawasan Pusat Budaya, lalu menyebrang jembatan atas yang menghubungkan Pusat Budaya dengan stasiun.

Dari tengah jembatan aku potret suasana jalan raya via HPku. Di ufuk barat nampak sinar surya yang keperakan memecah mendung tipis, tak ada mega di senja itu.

Di stasiun kami dapat tahu bahwa KA tidak jalan, lagi ada gangguan, kata sang petugas. Kami melanjutkan perjalanan menuju pusat pertokoan, langsung lewat jembatan yang menghubungkan stasiun ke lantai dua di salah satu mall, dari lantai dua itu kami melihat genangan air di area parkir.

Suasana lengang, pertokoan sudah mulai tutup, toko buku ‘Borders’ masih buka, kami masuk toko buku yang terbilang besar itu, di tengah toko buku itu terdapat Café, tapi saat itu Café sudah tutup. Selepas itu kami ke stasiun KA dengan maksud untuk pulang, dan Alhamdulillah KA sudah bisa melayani para penumpang.

Sampai di Gosnells ternyata keadaan lampu mati, gangguan jaringan listrik, di rumah tinggal kami tak terkecuali, maka kami menyalakan lilin, namun aliran listrik di rumah kami menyala lagi lepas tengah malam.

Dini hari aku berangkat menuju ke sebuah titik destinasi dan baru menjadi tahu banyak lampu lalu-lintas yang tidak nyala; ’dangerous’, itu yang ada dalam pikiranku, tapi saat itu arus lalu-lintas masih amat sepi, masih ‘satu-dua’ saja kendaraan yang lalu-lalang, namun demikian aku harus mengendarai dengan amat hati-hati.

Alur yang aku lewati adalah alur dengan dengan kecepatan maximum 60 km/jam, kecuali hanya ada satu alur pendek dengan alur kecepatan 70 km/jam, di sini aturan betul-betul jalan, berbagai macam perangkat digunakan untuk menegakkannya.

Memasuki area parkir titik destinasiku, tepat di pertigaan (masih dalam area parkir) aku dapati sebuah pohon tumbang hampir menutup akses, namun untuk sebuah kendaraan tak masalah. Tiada lama kemudian Polisi turun tangan mengatur arus lalu-lintas, dan selang beberapa saat kemudian semua gangguan jaringan listrik kembali normal.

Di pagi itu aku ‘membolak-balik’ Koran, dan barulah aku tahu bahwa ternyata hujan dan angin kencang di senja kemaren lalu telah menyebabkan banyak pohon tumbang, cabang dan ranting pohon patah bagai di cabik-cabik, buruknya cuaca di senja itu telah pula turut menuangkan hujan es di beberapa kawasan yang telah menyebabkan kerusakan berbagai barang, kaca-kaca rumah dan mobil yang tertimpanya menjadi pecah, demikian pula bodi-bodi mobil jadi pesot, genangan air terjadi di mana-mana, termasuk di jalan raya bawah tanah (terowongan), gangguan jaringan listrik telah menyebabkan kerusakan berbagai elektronik.

Jutaan dolar kerugian yang dialami. Aku tak menyaksikan sendiri kesemua kejadian dan kerusakan itu, melainkan hanya sebagian kecil saja, aku hanya membaca dan mendengar beritanya lewat Koran, TV dan berbagai sumber yang saheh. Tak ada keresahan apa-apa, tak ada isu politik, masyarakat berinteraksi dengan baik, semua berjalan sesuai dengan titik sentuhnya, menurut bidangnya masing-masing, sistem telah berjalan dengan baik, pemerintah telah dengan sigap mengatasi berbagai akibat dari buruknya cuaca di senja itu.

(Oleh: A. Fuad Usfa )

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here