Home Ragam Tujuh Tingkatan Alam dalam Penciptaan Mahluk

Tujuh Tingkatan Alam dalam Penciptaan Mahluk

38
tujuh tingkatan alam dalam penciptaan mahluk

Mikamoney.com– Tujuh tingkatan alam dalam proses penciptaan mahluk dalam ilmu tasawuf atau yang dikenal dengan sebutan Tanazzul  Tujuh yang diperkenalkan oleh Syekh Muhyidin Ibnu Arabi (1165 – 1240).

Tujuh Tingkatan alam ini merupakan ajaran yang menyatakan bahwa segala sesuatu yang ada diseluruh dimensi alam semesta ini hanyalah manifestasi dan cerminan dari keberadaan Tuhan dimana seluruh alam semesta tercipta tidak lain dari emanasi Tuhan semata.

Adapun Tujuh Tingkatan Alam (Tujuh Tanazzul) ibnu Arabi sebagaimana yang dinyatakan oleh Muhammad Zazuli dalam bukunya Sejarah Agama Manusia (2019) adalah sebagai berikut:

Alam Hahut/ Ahadiat ( Realm of Oneness)

Ini adalah alam tertinggi, alam ketuhanan. Semuanya barasal dan bersumber dari alam ini. Tuhan digambarkan sebagai Dzat yang tidak bisa disebut dengan apapun.

Inilah Tuhan sejati bagi seluruh mahluk alam semesta tidak pandang bangsa, suku atau agama apapun. Pada keadaan ini, tidak ada sesuatu selain Dzat Tuhan

Alam Lahut/ Wahdat (Realm of Divinity)

Tuhan adalah dzat suci yang berdiri sendiri, tidak ada selain diri-Nya. Oleh karena itu Dia rindu untuk dikenal, namun siapa yang akan mengenal-Nya karena tidak ada yang lain selain diri-Nya.

Oleh karena itu, Tuhan berkehendak menciptakan mahluk agar diri-Nya dikenal oleh mahluk tersebut. Inilah proses awal penciptaan

Tuhan hendak menciptakan mahluk, untuk menciptakan sesuatu pastilah menggunakan bahan padahal tidak ada apapun selain Tuhan. Oleh karena itu bahan tersebut diambil dari diri-Nya sendiri.  

Sama seperti air laut yang menampakkan diri berupa gelombang, sebenarnya tidak ada bedanya antara air laut dan gelombang dimana keduanya merupakan manifestasi dari satu hal saja.

Dia menciptakan Nur Muhammad ( cahaya yang terpuji) sebagai ciptaan pertamanya. Ibnu Arabi menjabarkannya sebagai Asyajaratul Kaun atau Pohon Kejadian 

Alam Jabarut/ Wahidiyat (Realm of Power)

Pada alam ini, Nur/cahaya yang bersifat ketuhanan menurunkan diri menjadi nur yang bersifat kemahlukan. Maka cahaya ini tidak lagi sebagai Tuhan, namun sebagai mahluk yang masih berupa satu kesatuan cahaya.

Disinilah terjadi proses penciptaan sebagaimana yang digambarkan oleh Ibnu Arabi sebagai Pohon Kejadian (Syajaratul Kaun) yang tidak pernah putus mengalir dimana pohon tersebut berasal dari satu cahaya dan cahaya tersebut berasal dari Dzat-Nya.

Jadi jelaslah bahwa benih semua mahluk dan kejadian berasal dari Cahaya Tuhan. Setiap penciptaan berasal dari-Nya. Dalam alam ini pula Tuhan melahirkan kehendak-Nya dan kehendak atau iradat tersebut Dia salurkan dalam setiap benih kejadian, tumbulah benih tersebut menjadi akar yang menjalar ke bawah.

Akar atau kehendak Tuhan inilah yang menjadi pondasi setiap penciptaan, maka segala sesuatu memiliki akar yang berada di bawah kendali Tuhan dan terjadi atas kehendak-Nya.

Inilah alam yang bersifat kemahlukan namun masih menjadi satu dan belum terpisah-pisahkan. Segala hal masih berbentuk konsep yang tersimpan rapi di sisi-Nya

Alam Ruh / Azali ( Realm of Light)

kehendak Tuhan tidak akan berwujud jika tidak ada sarananya, maka Tuhan menciptakan wahana bagi kehendak-kehendak-Nya tersebut. Dalam alam ini Tuhan menciptakan mahluk yang sangat halus yakni Ruh.

Ruh sebagai sarana bagi sumber kehidupan semua mahluk. Ruh ini berasal dari percikan Diri Tuhan. Mula-mula Ruh tersebut masih satu dan akhirnya terbagi-bagi menjadi banyak sekali.

Bagian-bagian ruh tersebut siap untuk mengisi tiap-tiap bentuk dan wahana yang akan di ciptakan-Nya kemudian

Alam Misal/ Alam Ardhul Haqiqah ( Realm of Spirit)

Keberadaan ruh sebagai daya kehidupan tidak akan berguna jika tidak ada sesuatu sebagai wahana, sarana maupun kendaraannya. Tuhan menciptakan berbagai bentuk ciptaan melalui proses penurunan Diri.

Dia mengambil nur sebagai bahan-Nya. Maka inilah mahluk sejati, bukan Tuhan karena berasal dari nur yang bersifat kemahlukan dan tidak berasal langsung dari Dzat Tuhan.

Ciptaan dalam alam Misal ini masih berupa mahluk-mahluk yang masih sangat halus atau ghaib namun nyata bentuknya. Surga, neraka, malaikat (alam malakut), iblis, jiwa, jin dan berbagai bentuk energi dan kesadaran non materi berada di alam ini

Alam Ajsam/ Alam Nasut (Real of Matter)

Bentuk-bentuk halus berupa energi dan kesadaran tadi belum akan aktual jika belum memiliki bentuk yang padat dan nyata. Maka diwujudkanlah beragam materi dengan segala hal yang ada di dalamnya sehingga terwujud alam semesta dalam dimensi fisik.

Ini adalah hijab atau dinding penghalang yang paling besar untuk mengenal Tuhan karena kesadaran terkurung kedalam bentuk jasmani dengan getaran yang rendah (ilusi)

Tentang alam semesta dimensi fisik ini dikatakan bahwa dalam satu Kitabul Mubin mengendalikan 300 juta Lauh mahfudz (super cluster),

masing-masing Lauh mengendalikan 80 ribu Haziri (galaksi), masing-masing Haziri berisi 13 miliar sistem bintang dimana setiap 1 miliar sistem bintang memiliki kehidupan di salah satu dari planet mereka dan dimana setiap bintang memiliki 9, 12 atau 13 planet di sekitarnya

Alam Insan Kamil/ Alam Jami’( Realm of Human)

Pada akhirnya terwujudlah manusia sebagai gambaran dan cermin dari Diri-Nya yang sempurna. Melalui manusia inilah Dia menikmati hasil ciptaan-Nya. Manusia dibekali akal dan hati sebagai sarana kehadiran Tuhan di dalam dirinya.

Kelebihan utama manusia dibanding dengan mahluk lainnya adalah kemampuannya untuk bisa menampung kehadiran Tuhan sehingga dia bisa menjadi wakil (khalifah) bagi Tuhan di muka bumi.

Melalui manusia sempurna inilah kehendak-Nya untuk mengenal dan dikenal akan terlaksana

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here