Nambah Dulur dan Pergeseran

  • Share
nambah dulur dan pergeseran ukhuwah

Sebagian terbanyak dari perjalanan hidup saya adalah saya jalani di tanah Jawa. Di antara itu saya pernah hidup di lingkungan orang Jawa yang memang jawa, yaitu tatkala saya kos di Ketawang Gede Kota Malang.

Beberapa tahun saya kos di sana, di keluarga jawa. Juga tatkala ngontrak rumah di kota Batu, kemudian juga saat saya ngontrak rumah di Pendem (yang juga masuk kawasan Kota Batu).

Belum lagi di saat-saat saya membimbing KKN (Kuliah Kerja Nyata) mahasiswa, khususnya pada saat KKN diadakan di desa-desa terpencil dan dijalankan selama tiga bulan).

Lingkungan di situ adalah lingkungan yang memang jawa dengan tradisi dan falsafah jawa yang dianut masyarakatnya. Walau tentu sudah terdapat pembauran, namun masih kental kejawaannya.

Apa yang ingin saya utarakan dengan narasi singkat saya di atas?. Tiada lain hanya salah satu saja dari falsafah hidup yang mereka pegang, yaitu ‘nambah dhulur’.

Nambah dulur. Kata itu adalah salah satu kata yang selalu kita dengar. Artinya menganggap bahwa manusia ini adalah satu kesatuan, yang kadang hubungan-hubungan persaudaraannya terputus oleh berbagai sebab.

Seperti karena jarak teritori, darah, budaya, dan seterusnya. Tapi hakekatnya adalah sama. Oleh sebab itulah pentingnya memulihkan kedekatan-kedekatan yang telah terpisahkan itu.

Nambah dulur makna harfiyahnya adalah ‘menambah saudara’, sedangan makna termenologisnya dapatlah dirumuskan sebagai ‘menambah/mempererat hubungan persaudaraan di antara sesama manusia tanpa memandang segala latar belakangnya’.

Dari uraian di atas dapat kita pahami bahwa konsep ‘nambah dulur’ merupakan hubungan persaudaraan yang tulus dan luhur, tanpa ada pretensi apapun juga. Hubungan persaudaraan universal, sebagai satu kesatuan yang utuh.

Pengertian dan jiwa daripada nambah dulur berbeda dengan apa yang umum kita kenal dengan istilah ukhuwah.

Ukhuwah adalah merupakan hubungan pesaudaraan yang terpilah-pilah.

Konsep ukhuwah yang umum kita kesankan memandang manusia itu terkotak-kotak, dan pada kotak-kotak itu terdapat jenjang kederajatan yang bertangga.

Ada kotak jenjang atas dan jenjang bawah, ada jenjang kotak yang lebih utama dan luhur ada pula pula jenjang peringkat bawah dan ‘terhina’, dan seterusnya.

Konsep ukhuah adalah konsep yang penuh dengan tendensi-tendensi, penuh dengan praduga/pretensi. Konsep ukhuah adalah konsep politik (politiking) terhadap segala hal kehidupan.

Bukanlah konsep yang murni suara hati nurani kemanusian yang suci dan luhur.

Pengertian kedua istilah tersebut di atas berbeda sangat jauh. Oleh sebab jauhnya itu maka dengan sendirinya tidak setara untuk disandingkan.

Walau kemudian konsep ukhuah itu dilunakkan, pun masih belum mungkin untuk disandingkan.

Persoalan utamanya adalah sifat mendasar yang dikandungnya, yaitu pengkotak-kotakan, jenjang penderajatan, serta politiking yang tidak mungkin terlepas dari konsep ukhuah.

Nambah dulur memahami sesama dengan penuh baik sangka, sedang ukhuah dengan buruk sangka.

Nambah dulur memahami semua orang sebagai bagian daripadanya, sedang ukhuah memahami orang di luar dirinya sebagai ‘makhluk’ yang harus dicurigai dan bahkan bisa dipahami sebagai musuh yang harus dilawan.

Dari perbandingan di atas dapatlah kita lihat pada realita yang ada. Dalam realitanya kita melihat bagaimana konsep ukhuah itu telah mencoba menggeser konsep nambah dulur di kalangan masyarakat jawa. Adapun perihal kadarnya, itu lain persoalan.

Sehingga dengan demikian muncullah sikap keakuan, kecurigaan, permusuhan, dan seterusnya yang kita dapat saksikan dari hari ke sehari.

Pada kasus-kasus belakangan ini perhatikan misalnya tatkala ia melihat kembang api, melihat terompet, melihat patung, melihat tahun baru masehi, termasuk melihat orang lain melakukan peribadatan yang berbeda walau bahkan masih dalam satu ‘kotak’ sekalipun, apa lagi berbeda ‘kotak’, dan lain-lain.

Tentu konsep nambah dulur itu tidak mungkin secara serta merta terkikis secara keseluruhan, namun gejala itu (bahkan bukan sekedar gejala) semakin nyata dan meluas, dengan (sekali lagi saya sebut) terlepas dari sekalanya.

Pun saya tidak menafikan bagaimana kuatnya konsep ‘nambah dulur’ ini dalam memfilter konsep ukhuah dalam perjalanan sejarahnya.

Saya bisa mengutarakan lagi berbagai kasus yang tiada terhingga jumlahnya, dari caci maki hingga menabur misiu dan bom. Namun saya selalu punya alasan klasik, yaitu waktu saya terbatas.

Itulah yang saya maksudkan adanya pergeseran, dengan segala tensinya. Itu semua tentu terpulang pada lingkungan.

Mungkin ada pembaca yang berpikiran bahwa uraian saya terlalu melebar, namun saya berpendapat tidak(!), bahkan sangat fokus.

#maka dari itu tak herah manakala yang terjadi bukan lagi konsep ‘nambah dulur’, melainkan adalah ‘nambah musuh’.

(Cannington WA, 7 Januari 2018)

Penulis: A. Fuad Usfa

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *