BOYAN;

1. Pendahuluan

Apabila dikaitkan dengan penamaan Bawean, istilah Boyan tidak dijumpai kapan dan dari siapa asal-muasalnya (-bila selain yang terkait dengan penamaan Bawean akan penulis utarakan pada tulisan berikutnya-).

Sama juga halnya dengan penggunaan nama Bawean.

Adapun yang nyata istilah Boyan telah digunakan secara luas di beberapa kawasan perantauan orang Bawean, khususnya di kawasan semenanjung Melayu.

2. Asal Muasal Istilah

Jika kita bertanya pada orang di Surabaya dengan pertanyaan, ‘apakah anda kenal nama ‘Bhebien’?. Saya berpikir kecenderungan mereka akan menjawab ‘tidak’, walau mereka mempunyai teman atau tetangga dekat orang Bawean.

Berbeda bila ditanya, ‘apakah anda kenal nama ‘Bawean’?, maka mereka akan menjawab iya…, saya punya teman dan tetangga orang Bawean.

Mengapa demikian?, tentu oleh sebab istilah Bawean itulah yang luas dikenal dan digunakan dalam masyarakat Surabaya.

Berkenaan dengan istilah Bawean, pertanyaannya sama halnya dengan tatkala kita mempertanyakan istilah Boyan, yaitu dari mana asal muasal istilah Bawean?, sebab bila istilah Bawean berasal dari orang Bawean, tentu akan mustahil, sebab dalam kata orang Bawean sejatinya tidak mengenal kata ‘ba’. Taruhlah sebagai contoh, ‘aba’ menjadi ‘abe’, ‘batuk’ menjadi ‘betok’, ‘babi’ menjadi ‘bebi’, dan seterusnya.

Kata sebagian orang Bawean berasal dari kata dalam bahasa Sangsakerta, yaitu ‘ba’ ‘we’ ‘an’, yang diartikan ‘ba’ artinya sinar, ‘we’ artinya mataahari, ‘an’ artinya ada.

Pertanyaan kita benarkah demikian?, sudahkah kita mengeceknya dalam kamus bahasa dengan semestinya, benarkah kata dalam bahasa Sangsakerta terdapat kata dua huruf-dua huruf seperti itu?, tentu ada tapi sangat sedikit, seperti misalnya kata ‘su’ yang bermakna baik.

Matahari dalam bahasa Sangsekerta adalah ‘surya’, hal ini sama dengan yang digunakan dalam bahasa Gujarat (Gujarati), Bengali, Thailand, dan juga umum dikenal dalam masyarakat kita, terutama Jawa.

Dalam bahasa Sangsekerta matahari juga disebut ‘radithya’, sedangkan (Dewa) matahari adalah ‘aditya’.

Adapun sinar dalaam bahasa Sangsekerta adalah ‘kara’, dan cahaya dalam bahasa Sangsekerta adalah ‘chaya’, serta menyinari dalam bahasa Sangsekerta adalah ‘gantari’.

Dugaan saya munculnya peng-artian ba-we-an sebagai sinar-matahari-ada tersebut bermula dari senda gurau yang kemudian menyebar tanpa mampu dilacak kebenarannya.

Sebagai orang Bawean saya menyadari, oleh sebab budaya dongeng begitu kuatnya di masyakat kita, sehingga sulit membedakan antara dongeng dan realita, termasuk sejarah.

3. Makna Dalam Kata

Selama ini kita telah teramat banyak menggunakan kata atau istilah yang kita sendiri tidak paham akan maknanya.

Persoalannya apakah kita harus memahami makna setiap kata yang kita gunakan?, tentu jawabnya ‘tidak’, sebab tidak mungkin itu bisa terjadi.

Coba kita cermati, terdapat kata yang berbeda samasekali dengan kata aslinya, seperti ‘telur mata sapi’, tidak benar itu adalah telurnya mata sapi, atau mungkin orang akan menjawab, sebab itu mirip dengan mata sapi, pertanyaannya adalah, mata sapi yang manakah yang mirip dengannya?!.

Terdapat pula kata atau istilah yang berasal dari satu bahasa yang penyebutannya berbada namun mempunyai makna yang sama, seperti ‘ridha’ dalam kata Arab menjadi ‘riza’ dalam kata Parsia, demikian pula ‘musyawarah’ dalam kata Arab menjadi ‘musyawarat’ dalam kata Parsia.

Bahkan terdapat juga kata yang mempunyai makna yang bertentangan secara hakiki dengan segala konsekwensinya, misalnya ‘obat nyamuk’, semestinya racun nyamuk, sebab bila nyamuk diobati konsekwensinya nyamuk yang sakit bisa menjadi sehat.

Demikian pula istilah ‘shalat’, menjadi ‘sembahyang’, bagaimana ini bisa?, sebab shalat adalah menyembah Allah dalam terminologi Islam, sedang sembahyang adalah menyembah ‘Hyang’ atau ‘Leluhur’ dalam terminologi pra Hindu-Budha, padahal bila orang Islam menyembah ‘Leluhur’ (roh) maka bermakna mereka itu syirik, dan syirik konsekwensinya adalah dosa besar yang tak terampunkan.

Terdapat pula kata yang dalam bahasa suatu daerah bermakna bagus, tapi di daerah yang lain punya makna yg sangat jelek.

Belum lagi kita berbicara tentang persilangan budaya.

Bahasa adalah sesuatu yang lazim, lazim berlaku dalam komunitas tertentu, maka itu muncul bahasa Arab, bahasa Inggris, bahasa Bali, bahasa Jawa, dan seterusnya.

Jadi apa yang lazim dalam komunitas Arab, apa yang lazim dalam komunitas Inggris, apa yang lazim dalam komunitas Jawa, dan seterusnya.

Bila tidak, maka bahasa bisa menyebabkan perang, sebab taruhlah misalnya orang Arab mengoreksi penggunaan bahasa Indonesia atau Jawa, dan seterusnya yang berasal dari kata Arab, maka semua penggunaan kata Arab di Indonesia, Jawa, dan seterusnya itu akan menjadi salah, dan akan menjadi benar manakala lidah orang Indonesia, dan seterusnya itu diganti dengan lidah orang Arab di negeri Arab sana, demikian pula latar belakang historis ataupun sosiologisnya, tentu itu tidak mungkin terjadi.

Demikian pula penggunaan kata dari bahasa Inggris, Belanda dan seterusnya, belum lagi dalam penulisan dan lain-lain.

Kita tentu sama maklum pula, bahwa nama negara saja bisa berubah dalam penyebutan di negaraa lain, katakan misalnya Netherlands disebut juga Dutch, bangsa kita menyebut Belanda, New Zealand bangsa kita menyebutnya Slandia Baru, Greek disebutnya Yunani, USA menjadi Amirika serikat, dan sebagainya.

Belum lagi panggilaan-panggilan –termasuk panggilan terhadap suatu negara– berdaasar kebiasaan orang barat, seperti Australia Ausi, atau OZ misalnya, Malaysia menjadi Malay, dan seterusnyanya.

4. Pergaulan

Manusia tidak mungkin hidup secara sendiri, ia akan bergaul (berinteraksi).

Semasa baru lahir bergaul dengan ibunya, kemudian dengan pihak lain, utamanya dengan anggota keluarga dekatnya, dari pergaulan itulah ia meniru banyak hal, termasuk dalam berbahasa, lidahnyapun terbentuk sebagaimana orang-orang disekitarnya, selanjutnya melebar, tergantung tingkat mobilitasnya, makin tinggi tingkat mobilitasnya akan makin lebih luas pergaulannya.

Orang mengenal kita karena kita bergaul, bila tidak, maka tetanggapun tidak akan mengenal kita, jangankan orang jauh.

Orang yang mengenal kita akan menyebut nama kita, sebab tidak mungkin menyebut bila tidak kenal.

Manakala orang yang menyebut nama kita adalah orang-orang di sekitar kita, yang mana lidahnya sudah terbentuk sebagaimana kita, demikian pula pendengaran dan pengalamannya, maka akan samalah dengan kita menyebut nama kita, tapi manakala orang itu di luar kita, yang mana lidah, pendengaran serta pengalamannya berbeda, maka logis bila mereka tidak bisa berbuat seperti kita, sebagaimana pula kita tidak bisa berbuat seperti mereka.

Kala itulah kita paham bahwa kita telah berada ‘di luar wilayah’ kita.

Taktala kita berada ‘di luar wilayah’ kita, maka bermakna kita telah bergaul melampaui ‘wilayah asal’ kita.

Dengan demikian bila istilah “Boyan’ telah dikenal serta lazim digunakan di Singapore, Malaysia dan beberapa wilayah perantauan orang Bawean sejak masa panjang ke belakang, maka sejak masa panjang ke belakang itulah pergaulan orang-orang Bawean telah begitu luas, yang juga menunjukkan mobilitas orang Bawean telah begitu tinggi sejak beberapa masa yang panjang ke belakang itu.

Apakah kata boyan dilontarkan oleh sebab pembawaan lidah saja, atau oleh sebab kurang cermat pendengaran, atau oleh sebab hal lain, wallahua’lam bissawaab.

Berkenaan dengan pembawaan lidah misalnya dalam penyebutan nama Salahuddin menjadi Saladin dalam lidah orang barat. Jabal Tarik menjadi Jibrartar?. Ibnu Sina menjadi Avessina. Nama panggilan saya Ahmad, kawan saya asal Libanon memanggil saya Ahmed, kawan saya yang orang putih memanggil Aemed.

Sehubungan dengan penggunaaan bahasa ini perlu pula saya utarakan di sini bahwa bahasa Madura yang umum (-juga bahasa Bawean tentunya-) adalah bahasa melayu juga, siapa kiranya yang menyadari hal ini?, caba cermati satu persatu, adapun bahasa Maduraa dikalangan kraton adalah bahasa Jawa yang semua itu telah mengalami penyesuaian dengann lingkungan setempat.

5.Disifatinya

Apakah atas rasa pengertian dan keluasan wawasan para pendahulu kita, maka istilah Boyan dibiarkan bergulir secara sosiologis, tidak ada ‘politisasi’ dan prasangka, maka istilah Boyan dapat pulalah disifati sebagai salah satu kekayaan warisan datuk moyang kita. Ataukah akan disifatinya dengan penuh kecurigaan dan prasangaka?. Diperlukan kearifan.

(BERSAMBUNG)

(Perth WA, Medio April 2012)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *