Home Kolom Pusat Studi Hukum Dan Hak Azasi Manusia (SATUHAM)

Pusat Studi Hukum Dan Hak Azasi Manusia (SATUHAM)

10
satu ham

Kenangan Oktober 2000 Di Perth Dan Terbentuknya Pusat Studi Hukum Dan Hak Azasi Manusia (SATUHAM)

*
Hari ini tanggal 10 Oktober. Saya sempatkan menulis kenangan saya yang mana pada tanggal dan bulan yang sama di tahun 2000,

saya bersama beberapa rekan sekerja berangkat melakukan lawatan kerja ke Perth Australia Barat.
*

Pada tanggal 10 Oktober 2000, kami dari rekan-rekan Dekan, Permbantu Rektor III, serta Derektur ACICIS (Australian Consortium for In Country Indonesian Studies) di lingkungan universitas di mana kami bekerja, berangkat menuju Perth Australia Barat.

Kami berangkat melalui bandara Ngurah Rai Bali. Sekitar tiga jam setengah perjalanan kami tempuh. Setibanya kami di bandara Perth, kendaraan yang menjemput kami telah siap di tempat.

Di samping itu juga, alhamdulillah dua orang keluarga kami (Bawean) menjemput juga kedatangan kami.

Selama di Perth kami bermalam di sebuah hotel di kawasan Hay Street. Di Perth kami mengunjungi tiga universitas, yaitu Universitas Curtin, Universitas Murdoch, dan Universitas ‘Western Australia’, serta satu lembaga pendidikan Islam.

Tentu banyak pengalaman baru dan cerita yang kami peroleh. Dari yang substansial hingga yang sekedar bagian kehidupan kita sehari-hari, termasuk canda-tawa.

Sebagai juru bicara dari rombongan kami adalah bapak Ahmad Habib, seingat saya saat itu beliau adalah Diretur ACICIS untuk universitas kami.

Di luar acara resmi, saya ditemani oleh Jennifer D. Beliau adalah ‘alumni dari universitas kami’ untuk program ACICIS*). Setidaknya yang menempuh program ACICIS di universitas kami, saat ini sudah di angkatan ke empat puluh empat.

Saya ingat, Jennefer mengenalkan kota Perth dan kota pelabuhan Fremantle pada saya dengan mengajak keliling-keliling kota Perth, lalu ke Fremantle sambil menyusur ‘jalan pantai’.

Pada saat itu saya sangat terkesan pada sepanjang pantai Cottesloe. Pantai yang indah dengan bentangan samudera Indonesia nan mempesona.Dengan beliau pula kami banyak berdiskusi tentang rencana kerja kami, termasuk untuk melakukan kerja sama di bidang hak azasi manusia.

Ada beberapa lembaga berkaitan dengan yang saya utarakan. Saya memutus untuk memilih ‘Asia-Pacivic Centre for Human Rights and the Prevention of Etnic Conflict’. Lembaga tersebut adalah bagian dari Universitas Murdoch.

Dari situ saya dikenalkan dengan Arnold L.*). Beliau adalah mahasiswa program doktor (PhD) bidang ilmu hukum.

Beliau asal Sulawesi Utara. Kesan saya tentang beliau adalah, penampilannya tenang, ramah, tulus, dan sangat bersahabat. Dengan beliau pula saya diskusikan perihal apa yang saya harapkan.

Beliau sangat familier dengan Fernand de Varennes, yaitu Direktur ‘Asia-Pacivic Centre for Human Rights and the Prevention of Etnic Conflict’.

Dalam perbincangan dengan Direktur ‘Asia-Pacivic Centre for Human Rights and the Prevention of Etnic Conflict’ di kantornya, dicapailah kesepakatan progres untuk melakukan kerja sama, antara ‘Asia-Pacivic Centre for Human Rights and the Prevention of Etnic Conflict’, dengan Fakultas Hukum kami.

*Kami menikmati kota Perth. Di bulan Oktober adalah musim semi, udara sejuk dan nyaman. Bunga-bunga banyak bermekaran. Kami selalu makan malam di restauran Indonesia, restoran yang kalau kita masuk menapak tangga turun. Suatu kesan tersendiri.*

Setiba kembali saya di Fakultas Hukum kami, saya perbincangkan rencana kerja sama dengan ‘Asia-Pacivic Centre for Human Rights and the Prevention of Etnic Conflict’ itu.

Demikian juga saya perbincangkan dengan pihak universitas. Dan, tidak ada halangan apapun.Tentu kita memerlukan wadah tersendiri untuk menangani hubungan kerjasama tersebut.

Bu Cekli Setya Pratiwi dan kawan-kawan telah mempersiapkan semua itu. Maka dibentuklah Pusat Studi Hukum dan Hak Azasi Manusi (SATUHAM) di fakultas kami. Pusat studi tersebut dikepalai oleh ibu Cekli Setya Pratiwi.

Pada sekitar awal 2001 (saya tidak ingat persisnya), Fernand de Varennes datang berkunjung ke Fakultas kami dalam rangka menindak lanjuti pembicaraan kami terdahulu. Dan, sekaligus penandatangan kerjasama.Semua telah berjalan lancar.

Bu Cekli Setya Pratiwi telah membina SATUHAM dengan tekun. Hingga beliau studi di Belanda dan sekarang studi di Thailand tetap tiada lupa selalu membawa nama pusat studi tersebut di kancah dunia Internasional.

Pada bulan September 2019 beliau bertemu lagi dengan Fernand de Farennes di acara ‘Asia-Pacivic Forum on Language and Minority Rights’.

Semoga tetap jaya, dan sukses selalu, amin. (Cannington WA, 10 Oktober 2020).

Penulis: A. Fuad Usfa

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here