Home Kolom Keturunan Bawean di Australia (Sang Generasi 2)

Keturunan Bawean di Australia (Sang Generasi 2)

37

SANG GENERASI DI PERANTAUAN (Keturunan Bawean di Australia)

1. Nama

Nama: Abdullatif Bin H. Muhammad Isa, ia dikenal secara luas di kalangan orang-orang Melayu, Kokos maupun Bawean di Western Australia.
Ia adalah putra ke 7 dari pasangan H. Muhammad Isa Bin Sulaiman+Hj. Sumriyah Binti h. Ismail (baca Sang Generasi 1).

Baca juga : Orang Bawean di Australia ( Sang Generasi 1)

2. Dari Christmas Island, Singapore Dan Awal Di Australia

Abdullatif lahir di Christmas Island pada tahun 1952, yang pada saat itu Christmas Island masih di diletakkan dibawah Singapore.

Pada usia 19 tahun ia ke Singapore, tepatnya pada tahun 1971. Oleh sebab ia kelahiran Christmas Island sebelum tahun 1957, maka ia terhitung dalam kewarganegaraan (citizen) Singapore (‘azas Iussolli’). Namun oleh sebab pada tahun 1957 Christmas Island beralih di bawah pemerintahan Australia, maka ia juga mempunyai hak untuk memilih kewarganegaraan Australia.

Sehubungan dengan itu, maka pada tahun 1974 ia balik sebentar ke Christmas Island hanya untuk keperluan mengurus permohonan kewarganegaraan Australia, dan kemudian segera kembali lagi ke Singapore.

Pada tahun 1979 ia berangtkat ke daratan Australia, yaitu ke Australia Barat. Dari Singapore langsung ke kota Perth dan tinggal selama lebih kurang satu bulan. Selanjutnya ia ke Geraldton dan di situ ia tinggal dan bekerja selama enam bulan.

3. Menikah

Pada tahun 1980 ia menikah dengan gadis asli Eropa bernama Christina. Christina kelahiran England, dan kedua orang tuanya adalah asli England. Pada waktu ia berusia delapan tahun kedua orang tua Christina pindah ke Australia dan Christina ikut bersamanya.

Di Australia ia adalah teman sekelas daripada Habibah (adik kandung daripada Abdullatif), dan Abdullatif kenal dengan Christina semenjak ia masih di Singapore, yang kemudian melangsungkan perkawinan setelah setehun kala ia sampai di Australia (1980).

Adapun penguhu nikah adalah ayah daripada Abdullatif sendiri, yaitu H. Muhammad Isa Bin Sulaiman yang saat itu juga sebagai Penghulu*). Mereka kawin secara Islam, dan Christina memeluk Islam dengan merubah nama menjadi Nur Lina.

Selepas melangsungkan pernikahan Abdullatif bekerja di Port Headland selama kurang lebih delapan tahun (1980-1988), yang selanjutnya pindah ke ‘kawasan Perth’ hingga sekarang.

4. Aktif Di Masjid ‘Ar- Rukun’ Rockingham

Abdullatif dan Nur Lina pernah ikut ambil bagian dalam aktifitas di Masjid Ar-Rukun Rockingham, oleh sebab jarak antara Rockingham dan tempat tinggalnya relatif berjauhan maka sejak tahun 2009 mereka sudah tidak aktif lagi.
Abdullatif juga aktif dalam kegiatan hadrah (main hadrah, dan bahkan sebagai pelatihnya).

5. Keturunan

Dari perkawinannya itu mereka telah dikaruniai enam orang anak, yaitu empat laki-laki dan dua perempuan. Dua diantara anaknya telah berumah tangga dan mempunyai anak pula, yang berarti mereka telah dikaruniai cucu.

6. Darah Musik

Abdullatif mempunyai hobbi bermain musik. Bersama putranya ia tampil dalam berbagai acara, seperti misalnya acara perkawinan, baik di ‘kawasan Perth’, Geraldton, Bunbury, dan lain-lain.

Kini ia sedang mengkader putra bungsunya yang bernama Delson. Delson sedang duduk di bangku Primary School year 6.

Saat penulis datang bertandang ke rumahnya Dalson sedang asyik tiduran bermain games hingga penulis hendak pamit dan spontanitas penulis minta izin memotretnya, sedang di sebelahnya terdapat sebagian instrument musik yang selalu digunakan untuk tampil.

Sebagaimana biasa senyum yang terkulum selalu mengiringi dari bang Latif, demikian penulis selalu memanggilnya.
Selepas memotret itu penulis mohon diri.

(A. Fuad Usfa, Ditulis di Gosnells WA, 19 April 2010. Update sekedarnya di Cannington WA, 17 Mei 2020)
———-
*) Setelah masa H. Muhammad Isa, H. Miftah adalah sebagai Penghulu. H. Miftah adalah orang Bawean Asli.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here