Home News Kinerja Emiten Tambang BUMN, Berikut Rangkumannya

Kinerja Emiten Tambang BUMN, Berikut Rangkumannya

108
0
mikamoney.com

Mikamoney.com– Kinerja Emiten Tambang BUMN yang bergerak dalam sektor tambang dan tergabung dalam Holding MIND ID mencatatkan penurunan laba bahkan ada yang rugi. Ketiga emiten yang tergabung dalam holding tersebut  yakni PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), PT Bukit Asam Tbk (PTBA), dan PT Timah Tbk (TINS) telah mengeluarkan laporan keuangan untuk tahun 2019.

Berikut rangkuman kinerja dari ketiga emiten tersebut :

1. PT Bukit Asam (PTBA) Tbk

PTBA berhasil membukukan laba bersih senilai Rp4,05 triliun sepanjang periode 2019. Capaian laba bersih konstituen Indeks Kompas100 ini turun 19,24% dibandingkan realisasi laba pada tahun 2018 yakni Rp5,02 triliun.

Meski demikian,  kinerja emiten tambang yang berbasis di Sumatera Selatan ini berhasil membukukan kenaikan pendapatan usaha sebesar 3% menjadi Rp 21,8 triliun sepanjang 2019 dibandingkan tahun  2018 senilai Rp 21,2 triliun.

Direktur Utama Bukit Asam Arviyan Arifin sebagaimana disampaikan kontan.co.id mengatakan, penurunan laba bersih emiten ini tidak lepas dari harga batubara yang mengalami tren penurunan sepanjang 2019. Penurunan ini seiring dengan pelemahan harga batubara Indeks Newcastle sebesar 28% dari US$ `107,34 per ton menjadi US$ 77.7 per ton.

Demikian dengan Indeks Batubara thermal Indonesia (Indonesian Coal index/ICI) yang melemah 17%, dari US$ 60,35 per ton menjadi US$ 50,39 per ton pada 2019. Kenaikan beban juga turut menekan kinerja dari emiten batu bara ini sepanjang 2019. Beban pokok penjualan misalnya, naik menjadi Rp 14,18 triliun dari yang sebelumnya Rp 12,62 triliun.

Kinerja operasional 2019

Volume penjualan : 27,8 juta ton ( naik 13%)

Volume produksi : 29,1 juta ton. (naik 10,2%).

2. PT Aneka Tambang Tbk (ANTM)

ANTM membukukan pendapatan bersih sebesar Rp 32,71 trilun pada tahun lalu, naik 29,44% dari realisasi penjualan tahun sebelumnya yang hanya Rp 25,27 triliun.

Meski demikian, laba bersih emiten ini justru menyusut. Emiten yang terkenal dengan produk logam mulianya ini mengantongi laba bersih yang dapat diatribusikan kepada entitas induk sebesar Rp 193,85 miliar atau turun 88,15% secara tahunan.

Salah satu penyebab turunnya laba bersih adalah naiknya pos beban. Beban pokok penjualan misalnya, melonjak 37,15% menjadi Rp 28,27 triliun.

Baca juga: Saham 2021 yang layak untuk anda perhatikan

Kinerja operasional 2019 :

Penjualan emas : 34.016 kilogram atau 1.093.639 troy oz, (naik 2%)

Penjualan feronikel : 26.212 Tni (naik 9%)

Penjualan Bijih nikel : 7,6 juta wet metric ton (wmt)

Produksi :

Produksi emas dari tambang emas Pongkor dan Cibaliung : 1.963 kg atau 63.111 troy oz

produksi feronikel : 25.713 ton nikel dalam feronikel (Tni) (naik 3%)

produksi bijih nikel : 8,70 juta wmt.

3. PT Timah Tbk (TINS)

Emiten yang berbasis di Kepulauan Bangka Belitung ini menjadi emiten yang kinerjanya paling tertekan dan harus menanggung rugi tahun berjalan yang diatribusikan pada entitas induk Rp 611,28 miliar pada tahun lalu.

Meski demikian, pendapatan TINS melonjak 75,13% menjadi Rp 19,30 triliun. Naiknya pos beban, seperti beban pendapatan usaha yang melesat 82,79% ke Rp 18,17 triliun ditengarai menjadi salah satu penghambat kinerja emiten tambang pelat merah ini.

Sekretaris Perusahaan PT Timah Abdullah Umar Baswedan mengatakan, ke depan TINS sudah menyiapkan langkah – langkah perbaikan untuk peningkatan kinerja, yakni melalui efisiensi di setiap lini bisnis, optimalisasi alat produksi, serta menjaga kinerja produksi dan penjualan agar cash flow dan margin tetap optimal.

“Efisiensi biaya bahan baku, efisiensi biaya administrasi dan umum, serta negosiasi terhadap pihak ketiga terkait dengan maintenance alat produksi dan biaya operasional,” ujar Umar kepada Kontan.co.id, Jumat (17/4).

Kinerja operasional 2019 :

Produksi timah : 76.389 metric ton (naik 128,4%).

Penjualan timah : 67.704 metric ton ( naik 50,05%)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here